Latihan Militer Gabungan Amerika Serikat-Korea Selatan: Respon atas Eskalasi Tensi di Semenanjung Korea

By Gracia Ayni Warella

Instabilitas telah menghiasi dinamika politik-keamanan regional Semenanjung Korea selama lebih dari 50 tahun. Friksi antara utara dan selatan menjadi relik Perang Dingin yang masih eksis, dimana perang ideologi komunisme hasil modifikasi Kim-Il Sung dengan paham demokrasi-kapitalis milik Korea Selatan mendasari ketegangan tanpa henti (Lowe, 2000). Dibatasi oleh garis demarkasi, kedua negara sejatinya tak pernah menghasilkan suatu resolusi perdamaian, namun hanya sebatas gencatan senjata yang dihormati hingga kini. Walau relatif stabil di bawah kepemimpinan Kim Jong-Un, ambiguitas dari situasi konflik kedua negara kerap dikhawatirkan melahirkan komplikasi, terutama dengan kapasitas senjata nuklir yang menjadi alat propaganda, sekaligus unjuk supremasi Korea Utara. Selama berpuluh tahun, khususnya pasca wacana negosiasi dengan rezim, setiap pihak berkonflik — termasuk negara hegemon dibalik friksi tersebut yakni Tiongkok dan Amerika Serikat — ingin mempertahankan status quo demi terwujudnya stabilitas semenanjung (Stent, 2022; Kelly, 2019).

Namun, setelah empat tahun deeskalasi latihan militer yang berorientasi memotivasi negosiasi dengan Korea Utara, Amerika Serikat dan Korea Selatan kembali melanjutkan latihan militer skala besar. Operasi dengan nama Ulchi Freedom Shield dirancang untuk menguji kesiapan terhadap uji coba rudal Korea Utara, secara spesifik meningkatkan kapasitas negara dalam melindungi sejumlah fasilitas strategis, layaknya pabrik chip hingga rantai pasokan, menimbang pola perang yang berubah seiring zaman (Banka, 2022). Operasi yang akan berlanjut hingga 1 September 2022, diprediksi memicu keresahan dari rezim Korea Utara, dimana Korea Utara telah lama menentang mosi kooperasi militer Korea Selatan-AS. Pyongyang melihat hal tersebut sebagai bagian dari hostile policy AS sekaligus praktik untuk potensi adanya invasi (Stangarone, 2022).

Operasi latihan militer ini sendiri tak lahir tanpa sebab yang jelas, terlebih faktor instabilitas politik-keamanan selalu memengaruhi setiap kebijakan luar negeri kedua negara. Sepanjang 2022, Korea Utara telah melakukan sejumlah uji senjata terbaru dan menembakkan lebih dari 30 rudal balistik tahun ini, menandai jumlah terbesar rudal balistik yang diluncurkan dalam satu tahun (DW.com, 2022). Lebih lanjut, para petinggi AS dan Korea Selatan memprediksi bahwa Pyongyang sedang bersiap untuk melakukan uji coba nuklir ketujuh.

Percobaan rudal balistik walaupun ditembakkan tak ke arah daerah penduduk, melainkan ke area perairan. Tak dapat dipungkiri proksimitas geografis dengan negara tetangga, seperti Jepang sangatlah dekat, dimana perairan negara yang memiliki jejak historis dengan Korea tersebut kerap menjadi target peluncuran rudal balistik Korea Utara, salah satunya ketika Presiden Joe Biden baru saja menyelesaikan visitasi ke Asia (Rasheed & Mayberry, 2022).

Hal ini pun dianggap kontradiktif dengan beberapa Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang dihadiri oleh Korea Utara, Korea Selatan, dan Amerika Serikat (Puspaningrum, 2022), dimana pada 2018 Kim Jong Un telah setuju untuk mengizinkan inspeksi nuklir, tunduk pada negosiasi, dan secara permanen membongkar situs uji dan landasan peluncuran, serta merencanakan potensi denuklirisasi. Selagi menunggu perjanjian terealisasi, kedua negara sepakat bahwa tak akan ada pengujian roket atau nuklir. Pertemuan 2018 kembali diperkuat ketika Donald Trump melakukan visitasi bersejarah bertemu pimpinan tertinggi Korea Utara melalui zona demarkasi, lalu dilanjutkan di Singapura secara formal (Panda, 2018)

Konflik dan reaksi dari setiap pihak secara berkesinambungan dapat dilihat melalui kerangka analisis dilema keamanan, situasi dimana tindakan yang diambil oleh suatu negara untuk meningkatkan intensitas keamanannya sendiri menyebabkan reaksi dari negara lain, yang pada akhirnya menyebabkan instabilitas keamanan berkepanjangan (Tang, 2009). Dalam konteks ini, Korea Utara terlibat dalam dilema berkepanjangan bersama Korea Selatan dan Amerika Serikat. Ketika terjadi percobaan rudal balistik demi intensifikasi keamanan, maka respon dari pihak lain adalah latihan militer berskala besar, begitupun sebaliknya. Hal ini malah akan menimbulkan siklus ketegangan yang tak akan berhenti, sehingga konflik antara kedua negara takkan pernah reda. Lebih lanjut ditinjau dari perspektif realisme, negara selalu akan mencoba memaksimalkan kekuatan atau dalam konteks ini adalah keamanan (Putnam, 1975). Maka berangkat dari asumsi tersebut, baik Korea Utara maupun selatan akan selalu berlandas ego, serta ketakutan akan invasi dari pihak lain.

Latihan militer gabungan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat, walau benar dikatakan sebagai respon defensif atas percobaan rudal balistik Korea Utara, merupakan sebuah regresi dari progres hasil konstruksi negosiasi sebelumnya saat masih dipimpin oleh Moon Jae-in. Dinamika kebijakan yang terus berubah seiring berganti pemimpin, berpotensi melanggengkan konflik di semenanjung tanpa henti. Pendekatan perdamaian dengan mengaksentuasi resolusi konflik, perdamaian, dan kerjasama ekonomi regional demi terciptanya stabilitas dinamika Semenanjung Korea.

Gracia Ayni Warella adalah anggota divisi Riset dan Pengembangan FPCI UGM. Tulisan ini melambangkan pandangan pribadi penulis dan belum tentu melambangkan pandangan FPCI UGM

REFERENSI

Banka, N. (2022, August 24). Explained: Why are South Korea and the US carrying out massive joint military drills around North Korea? The Indian Express. https://indianexpress.com/article/explained/explained-global/south-korea-united-states-joint-military-drills-north-korea-explained-8108752/

DW.com. (2022). North Korea carries out ballistic missile tests. https://www.dw.com/en/north-korea-fires-ballistic-missiles-south-korea-and-japan-report/a-61921276

Kelly, R. (2019). The persistent status quo with North Korea. Lowy Institute. https://www.lowyinstitute.org/the-interpreter/persistent-status-quo-north-korea

Lowe, P. (2000). The Korean War. Amsterdam University Press.

Panda, A. (2018, June 12). Donald Trump, Kim Jong Un Sign Joint Declaration at Singapore Summit. The Diplomat. https://thediplomat.com/2018/06/donald-trump-kim-jong-un-sign-joint-declaration-at-singapore-summit/

Puspaningrum, B. A. (2022, August 18). Presiden Korea Selatan Kecam Negosiasi dengan Korea Utara Terdahulu: Cuma Pertunjukan Politik. KOMPAS.Com. https://www.kompas.com/global/read/2022/08/18/093044870/presiden-korea-selatan-kecam-negosiasi-dengan-korea-utara-terdahulu-cuma

Putnam, H. (1975). What Is “Realism”? Proceedings of the Aristotelian Society, 76, 177–194. http://www.jstor.org/stable/4544887

Rasheed, Z., & Mayberry, K. (2022, May 25). N Korea fires missiles, ‘including ICBM’, as Biden ends Asia tour. Weapons News | Al Jazeera.

--

--

“Shape & promote positive Indonesian internationalism throughout the nation & the world.” | Instagram: @fpciugm | LINE: @toh2615q | LinkedIn: FPCI Chapter UGM

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Foreign Policy Community of Indonesia chapter UGM

“Shape & promote positive Indonesian internationalism throughout the nation & the world.” | Instagram: @fpciugm | LINE: @toh2615q | LinkedIn: FPCI Chapter UGM